Theme Colors
  • 2013-08-13
  • meif001




Pada tanggal 17 Juli 2013, telah terdampar seekor ikan hiu berukuran raksasa sekitar delapan meter di pantai Klatakan, Bali. Hiu pertama kali ditemukan oleh anggota Satpol Airud yang tengah bertugas.  Dengan dibantu oleh karyawan PT Ocean Blue Mutiara (OBM), hiu tersebutyang awalnya diduga sebagai paus yang terdampar, kemudian diupayakan untuk dikembalikan ke laut.  Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena ukuran ikan yang sangat besar dan bobotnya yang sangat berat.

Awalnya masyarakat setempat hendak mengambil sirip dan bagian-bagian tubuhnya untuk dijual, namun karena ukurannya yang besar dan kulitnya yang bersisik tajam, ikan tersebut tidak laku dijual. Pemilik PT OBM, Mr. David Schonell, kemudian berinisiatif untuk mengambil gambar dan mengoleksi bagian siripnya. Mr. David kemudian menyebarkan foto hiu tersebut yang diduga sebagai hiu basking.

Berita mengenai hiu yang terdampar tersebut sampai di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI pada hari Sabtu tanggal 20 Juli 2013, kemudian mencoba dikoordinasikan dengan Conservation International (CI) yang berada di Bali. Sehubungan dengan hari libur dan keterbatasan peralatan yang ada, sirip ikan hiu tersebut yang masing-masing berukuran di atas satu meter dan berat sekitar 30 kg, batal untuk dipindahkan.   Fahmi, peneliti ikan di Puslit Oseanografi LIPI kemudian berkoordinasi dengan Kapuslit Oseanografi LIPI untuk mengambil sampel tersebut karena dari hasil analisa foto diyakini bahwa ikan hiu yang terdampar tersebut merupakan jenis hiu basking (Cetorhinus maximus), yang selama ini dikenal hanya ditemukan di perairan dingin (temperate).  Dengan berbekal sebuah kontainer besar dan larutan formalin, sampel sirip hiu tersebut kemudian diambil oleh Fahmi dengan dibantu seorang teknisi, Priyo Agustono. Karena ukurannya yang sangat besar, samper sirip hiu tersebut terpaksa dipotong-potong untuk kemudian diawetkan dan ditata kembali.  Saat ini sampel sirip hiu tersebut telah berada di kantor Puslit Oseanografi LIPI untuk tahapan pengawetan lebih lanjut.
Temuan tersebut merupakan sebuah temuan besar bagi ilmu pengetahuan karena selama ini belum perna ada catatan atau temuan mengenai keberadaannya di perairan tropis khususnya di wilayah Indonesia, sehingga menambah kekayaan jenis biota laut Indonesia.  Temuan ini juga dapat menjadi bahan untuk kajian oseanografi mengenai kemungkinan adanya arus dingin yang melintas di Selat Bali dan sekitarnya sehingga biota yang biasa hidup di perairan dingin dapat terbawa ke perairan Indonesia yang hangat, ataupun kajian mengenai tingkah laku jenis ikan hiu ini dalam bermigrasi lintas katulistiwa.

Oleh: Fahmi