Theme Colors
  • 2014-04-24
  • srisiti


(Jakarta – Humas LIPI). Terumbu karang bisa rusak karena berbagai sebab yang terkelompok ke dalam dua faktor yakni alam dan manusia. Peneliti Senior Pusat Penelitian (Puslit) Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Dr. Suharsono mengungkapkan, kerusakan karang akibat alam biasanya dapat pulih seperti semula.

“Namun demikian, kerusakan akibat aktivitas manusialah yang akan menyebabkan kerusakan permanen,” tandasnya saat Diskusi Media bertajuk Riset Ekosistem Terumbu Karang di Indonesia di Media Center LIPI Jakarta, Kamis (17/4) lalu.

Oleh karena itu, ia menandaskan bahwa program penyelamatan terumbu karang lebih difokuskan pada pengendalian kerusakan akibat ulah manusia. Pengelolaannya ditekankan pada aktivitas manusia yang memanfaatkannya, sehingga terjadi keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarianya. “LIPI telah memulai penyelematan terumbu karang tersebut sejak 1992 melalui kegiatan Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP),” ungkap Suharsono.

Perlu diketahui, hasil penelitian Puslit Oseanografi LIPI hingga tahun 2013 pada 1.135 stasiun menunjukkan bahwa sebesar 30,4 persen kondisi terumbu karang di Indonesia mengalami kerusakan atau kurang baik.

Hanya sebesar 5,29 persen dalam kondisi sangat baik, sebesar 27,14 persen masih dalam kondisi baik, dan sebesar 37,18 persen dalam kondisi cukup. Kendati demikian, terlihat ada kecenderungan atau tren kondisi terumbu karang yang semakin membaik bila dibandingkan dengan pengamatan sejak 1993.

15 Kabupaten/Kota

Dr. Giyanto, Peneliti Puslit Oseanografi LIPI menambahkan, COREMAP hingga saat ini sudah melakukan pengamatan terumbu karang secara lebih intensif dan berulang di 15 kota/kabupaten. “Kami mengamati terumbu karang di 8 kota/kabupaten yang berada di Indonesia barat dan 7 kabupaten berada di Indonesia bagian tengah dan timur,” imbuhnya.

Dia menyebutkan, 8 kota/kabupaten yang diamati di Indonesia bagian barat adalah Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Mentawai, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Lingga, dan Kota Batam. “Sedangkan, 7 kota/kabupaten di Indonesia tengah dan timur yakni Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Kabupaten Selayar, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Selayar, Kabupaten Sikka, Kabupaten Biak Numfor, serta Kabupaten Raja Ampat,” jelasnya.

Giyanto melanjutkan, terjadi penurunan tutupan karang hidup di Nias dan Mentawai secara rata-rata hasil pengamatan terumbu karang yang dilakukan di lokasi yang berada di Indonesia bagian barat, menunjukkan peningkatan persentase tutupan karang sekitar 4 persen per tahun berdasarkan pengamatan yang dilakukan sejak tahun 2004 hingga 2011.

Sedangkan pengamatan di Indonesia bagian tengah dan timur, lanjutnya, terjadi kondisi yang hampir sama seperti yang terjadi di lokasi Indonesia bagian barat. Kendati terjadi penurunan tutupan karang hidup di Biak, tetapi secara rata-rata hasil pengamatan terumbu karangnya menunjukkan peningkatan persentase tutupan karang sekitar 3 persen per tahun berdasarkan data pengamatan tahun 2006-2011.

“Penurunan tutupan karang hidup yang terjadi di Biak lebih disebabkan oleh faktor bencana yaitu badai hebat yang terjadi pada tahun 2009 dan peristiwa pemutihan karang (bleaching) yang melanda perairan Biak akibat naiknya temperatur air laut pada tahun 2010,” tutup Giyanto. (pw)

Sumber Foto: COREMAP

» Sumber : Humas LIPI

» Kontak : Giyanto