20 Tahun COREMAP dan Pembangunan Kelautan Indonesia


Pogram COREMAP CTI telah menghasilkan data dan informasi serta timbangan ilmiah yang signifikan dalam upaya restorasi dan pengelolaan ekosistem pesisir khususnya terumbu karang di Indonesia. Hal tersebut terungkap dalam kegiatan ekspose 20 tahun COREMAP dan pembangunan kelautan Indonesia yang diselenggarakan oleh  Pusat Penelitian Oseanografi (Puslit)  LIPI di Jakarta (Senin,10/11/18).

“Capaian penting yang telah dihasilkan diantaranya  indeks kesehatan ekosistem terumbu karang dan padang lamun, monitoring kesehatan eksosistem terumbu karang dan padang lamun, penyusunan basis data ekosistem pesisir nasional, pelatihan dan sertifikasi, riset prioritas berbasis kebutuhan serta penyelenggaraan ekspedisi pulau-pulau terluar,” ungkap Kepala Puslit Oseanografi LIPI, Dirhamsyah.

Dirhamsyah menjelaskan bahwa hasil kegiatan monitoring dan pengukuran terkini menunjukkan luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km2 atau sekitar 10 % total terumbu karang dunia yaitu seluas 284.300 km2. “Sebagai pusat segitiga karang dunia, Indonesia memiliki keanekaragaman jenis karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku atau sekitar 70 % lebih jenis karang dunia dan 5 jenis diantaranya merupakan jenis yang endemik,” ujar Dirhamsyah. Lebih lanjut Dirhamsyah menjelaskan, aktivitas manusia dan gejala alamiah sangat berpengaruh dalam kesehatan ekosistem terumbu karang.

Selain kegiatan ekspose tersebut, Puslit Oseanografi melakukan Ekspedisi Nusa Manggala sampai 23 Desember untuk memetakan potensi sumber daya pesisir di pulau-pulau terdepan Indonesia di provinsi Papua, Papua Barat dan Maluku Utara yang berada di kawasan Samudera Pasifik yakni Pulau Yiew, Budd, Fani, Miossu, Fanildo, Bras, Bepondi, dan Liki. “Ekspedisi ini mencakup empat tema yaitu ekologi, daya dukung lingkungan, geomorfologi, dan sosial-ekonomi,” ungkap Dirhamsyah.

Hasil ekspedisi menunjukkan pulau Yiew memiliki tutupan karang dengan kondisi sedang (26%) dengan 44 spesies ikan karang, 29 spesies moluska dan 12 spesies burung, 2 diantaranya adalah spesies endemik. Sedangkan Brass-Fanildo diketahui memiliki atol yang sangat luas dengan tutupan karang yang baik (65%) dan beragam karang hias. Atol tersebut menjadi tempat perlindungan bagi beragam biota laut dari kondisi ekstrim Samudera Pasifik untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pengumpulan data, informasi dan pengetahuan selama riset disimpan dalam Pusat Data Ekosistem Pesisir (PUSDEP). Data dengan mudah dan cepat diakses lewat aplikasi portal internet. “Data ini akan berguna untuk berbagai kepentingan terkait pemantauan ekosistem, edukasi dan studi lanjut”, demikian ungkapnya.

Sementara itu, untuk mengembangkan jejaring kerjasama regional, Puslit Oseanografi telah mendirikan “Regional Training and Research Center for Marine Biodiversity and Ecosystem Health” (RTRC MARBEST).  Di samping itu, untuk menjamin kompetensi sumber daya manusia pemonitor terumbu karang dan ekosistem terkait, Puslit Oseanografi LIPI telah membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). “Saat ini telah ada empat tempat uji kompetensi yang dapat digunakan untuk mensertifikasi SDM tersebut yakni Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi LIPI, Universitas Diponegoro, Universitas Maritim Raja Ali Haji, dan Universitas Sam Ratulangi,” papar Dirhamsyah.

Ekspose 20 Tahun COREMAP diisi dengan kegiatan seperti talk show eksplorasi perairan Indonesia, paparan hasil penelitian, serta pameran hasil-hasil kegiatan COREMAP selama tahun 2018. (Meifina,Pranata Humas Muda)

 

 

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948
E-mail kontak: humas.oseanografi@mail.lipi.go.id

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI