Kajian LIPI, Indonesia memiliki 903 Species Makroalga


Jakarta, Humas LIPI. Penelitian makroalga di Indonesia dimulai sejak jaman pemerintahan Belanda dan dokumentasinya sudah ada sejak 1989. “ Pada 1900 dimulailah ekspedisi Sibolga yang merupakan inventaris makroalga di Indonesia. Ditemukan500 jenis algae dari 50.000 specimen yang sampai saat ini tersimpan di Museum Herbarium Leiden - Belanda”, ungkap Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, Augy Syahailatua, pada Webinarbertajuk “ Potensi Makroalga dan Inovasi Perkembangannya di Indonesia” , Rabu (20/5) lalu di Jakarta. 

Augy menjelaskan kemutakhiran informasi terkait riset makroalga terus dilakukan mengingat koleksi  alga Indonesia cukup banyak. “ Aktivitas riset makroalga di Indonesia ada empat bagian. (1). Pada 1970-1980 melalukan kegiatan budi daya makroalga; (2). Keanekaragaman hayati; (3). Pasca panen; (4). Potensi, termasuk rekayasa strain makroalga yang pengembangan risetnya dilakukan hingga kini”, jelas Augy.

Peneliti Makroalga Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Tri Handayani, mengatakan sumber daya makroalga di Indonesia update 2019 memiliki keragaman jenis sebayak 903 spesies terkelompok pada 89 suku (famili) dan 268 marga (genus). “ Terdapat empat dari 268 marga yang menjadi komoditas unggulan penghasil keraginan dan agar-agar yaitu: Eucheuma, Kappaphycus, Gracilaria, dan Gelidium.  Lebih dari 50 persen, didominasi oleh alga merah( Rhodophyta) , lainnya terdapat alga  hijau ( Chlorophyta ) danalgacoklat (Ochrophyta) yang masih jarang ditemukan”, ungkap Tri.  

Sebaran makroalga di Indonesia, Tri  membaginya menjadi enam klaster wilayah, yaitu : (1). Pulau Sumatera dan sekitarnya; (2). Pulau Jawa dan sekitarnya; (3).  Pulau Bali dan Pulau Nusa Tenggara; (4).Pulau Kalimantan dan sekitarnya; (5).  Pulau Sulawesi dan sekitarnya; (6) Kepulauan Maluku dan Papua. “ Semua daerah kekayaan alga Rhodophytamasih lebih tinggi dibandingkan dengan Ochrophyta dan Chlorophyta”, jelas nya

Selanjutnya, Tri menyebutkanmakroalga memiliki fungsi ekonomi dan ekologi. “ Fungsi secara ekonomi, makroalga/ rumput laut bermanfaat bagi kehidupan manusia karena kandungan bahan alaminya bermanfaat sebagai bahan tambahan untuk industri. Manfaat lainnya yaitu kandungan polisakarida bioaktif yang dimanfaatkan sebagai kebutuhan farmakologi”, sebut Tri. Adapun dari fungsi ekologi atau biasa disebut sebagai jasa ekosistem, yaitu makroalga sebagai: produsen primer karena menghasilkan O2; sumber makanan bagi biota laut lainnya (moluska, Krsutase, ekinodermata, ikan); habitat pengasuhan bagi biota laut; tempat perlindungan bagi biota laut; habitat pemijahan bagi biota laut; bagian dari sistem karbon biru, pungkas Tri.

Rekomendasi LIPI dibutuhkan: (1).Eksplorasi keanekaragaman hayati makroalga terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan untk menambah data sebaran dan kekayaan spesies makroalga yang ada di Indonesia; (2). Eksplorasi peranan ekologi (jasa ekosistem) makroalga masih sangat diperlukan karena ini akan berpengaruh kepada keseimbangan ekosistem, dan didalam ekositem itu pasti ada produk perikanan juga yang berpengaruh kepada kesejahteraan manusia. (dsa/ed:mtr)
 

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI