LIPI Diseminasikan Aplikasi Seagrass Carbon Converter


Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi,(P2O)  mendiseminasikan  sebuah aplikasi berbasis web yang bernama Seagrass Carbon Converter (SCC) dalam acara lokakarya daring bertajuk “Dissemination on The Scientific Basis of The Seagrass carbon Converter (SCC), pada  Rabu (30/9) lalu. “Lokakarya interaktif ini memberikan gambaran mendalam kepada para peserta tentang bagaimana cara menginput data lamun ke aplikasi berbasis web SCC”, sebut Peneliti P2O LIPI, A’an  Johan Wahyudi.

A’an mengatakan, SCC dibuat dengan mengacu pada rumus untuk mengubah nilai biomassa, kepadatan dan presentase tutupan lamun menjadi nilai stok karbon dan serapan. SCC diharapkan dapat menjadi alternatif yang memudahkan pemangku kepentingan terkait di Indonesia, dalam hal pelaporan potensi keseimbangan karbon biru  ekosistem lamun yang dapat bermanfaat dalam pencapaian target penurunan emisi karbon”, tegas A’an. “Laporan seperti itu biasanya secara rutin diminta oleh sekretariat PRK (Pembangunan Rendah Karbon) untuk dipantau dan dievaluasi terkait dengan target pengurangan emisi karbon” imbuhnya. “Aplikasi dapat diakses melalui tautan http://scc.oseanografi.lipi.go.id “, tambahnya.

Pengembangan aplikasinya, disebut A’an dengan  menggunakan  metode MRV (measurement, reporting, and verification), untuk menghitung pengurangan emisi karbon dari kegiatan Perlindungan Ekosistem Lamun di Kawasan Konservasi Laut. “Kami, fokus pada ekosistem lamun karena saat ini belum ada metode MRV di LCDI Indonesia”, ungkap A’an yang juga sebagai, Koordinator Kegiatan Riset SCC.

“Tahapan pengembangan  metode MRV meliputi: (1). Pengukuran inventarisasi karbon; (2). Pengembangan formula; (3). Langkah-langkah perhitungan inventarisasi emisi karbon. “ Rincian perhitungan yaitu: Emisi baseline (dalam skenario business as usual); Kebocoran emisi saat melaksanakan kegiatan; dan Pengurangan emisi”, rinci A’an

Ekosistem, Sebaran, dan Stok Karbon dari  Lamun di Indonesia

Peneliti P2O LIPI, Udhi E. Hernawan mengatakan pentingnya ekosistem , pemetaan lamun dan Stok karbon Indonesia dari lamun jika dikaitkan dengan kehidupan manusia. “ Mengingat, Padang Lamun merupakan tempat bersandar bagi para nelayan di daerah pesisir karena merupakan sumber mencari nafkah, terutama dalam sektor perikanan”, sebut Udhi.  

“Padang lamun juga merupakan habitat bagi beberapa spesies yang terancam punah, seperti penyu dan dugong yang merupakan makanan utamanya adalah lamun.” Jelasnya. Lebih lanjut Udhi mengatakan,padang lamun diestimasi menyimpan stok karbon sebesar 24,13 ton karbon/ha/tahun.

Selanjutnya, masih dengan peneliti P2O LIPI,  Bayu Prayudha menjelaskan bahwa sejak tahun 1994 potensi sebaran lamun di Indonesia sekitar 875.967 Ha. Kemudian, pada 2018 baru terverifikasi 293.464 Ha baik menggunakan citra satelit maupun observasi lapangan.  “ Informasi luasan padang lamun dapat memberikan indikasi kondisi dan potensi secara menyeluruh pada ekosistem padang lamun.”, kata Bayu

Dirinya mengungkapkan  bahwa, beberapa wilayah pesisir di Indonesia masih minim informasi tentang sebaran padang lamun. “Untuk itu, pemerintah perlu lebih ditingkatkan bekerja sama dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk mengoptimalkan pemetaan lamun di Indonesia”, tutup Bayu. ( mtr/sys)

 

e - Jurnal
Sistem Informasi
Repository Publikasi Terbitan P2O - LIPI
Kolom Dr. Anugerah Nontji

Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI

Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430
Telp. 021 - 64713850
Fax. 021 - 64711948

Copyright@2017 Pusat Penelitian Oseanografi LIPI